Skip to main content

HUBUNGAN AJARAN KI HADJAR DEWANTARA DENGAN TUJUAN PENDIDIKAN

A. Tujuan Pendidikan

    Tujuan pendidikan menurut UU No. 2 Tahun 1985 adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya, yaitu bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, memiliki pengetahuan, sehat jasmani dan rohani, memiliki budi pekerti luhur, mandiri, kepribadian yang mantap, dan bertanggung jawab terhadap bangsa

    Menurut UU No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

    Salah satu tujuan pendidikan adalah tercapainya kedewasaan jasmani dan rohani anak didik. Kedewasaan jasmani adalah jika pertumbuhan jasmani sudah mencapai batas pertumbuhan maksimal, maka pertumbuhan jasmani tidak akan berlangsung lagi. Kedewasaan rohani yang dimaksud yaitu peserta didik sudah mampu menolong dirinya sendiri, mampu berdiri sendiri, dan mampu bertanggung jawab atas semua perbuatannya. 

    Berdasarkan deskripsi tentang tujuan pendidikan maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan adalah proses yang kompleks dan komprehensif yang dialami oleh individu untuk menjadikan potensi dirinya dapat berkembang secara optimal. Tujuan pendidikan adalah proses dinamis yang harus dilalui oleh individu untuk mendapatkan beberapa pengetahuan dan ketrampilan hidup untuk dapat berperan sebagaimana yang seharusnya

B. Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

    Dalam konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara, ada 7 asas penting dari pendidikan, yakni :

1.     Pendidikan sebagai usaha kebudayaan, yang bermaksud memberi tuntunan bagi pertumbuhan jiwa dan raga anak-anak, agar kelak mampu bertahan dari segala pengaruh yang mengelilingi hidupnya, maju lahir serta batinnya, menuju ke arah adab kemanusiaan.

2.     “Kodrat hidup” manusia menunjukkan adanya kekuatan sebagai bekal hidupnya perlu dipelihara sehingga dapat dicapai keselamatan dalam hidupnya lahir maupun batin, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk masyarakatnya. 

3.     Adab kemanusiaan, mengandung arti keharusan serta kesanggupan manusia untuk menuntut kecerdasan dan keluhuran budi pekerti bagi dirinya, serta bersama-sama dengan masyarakatnya, yang berada dalam satu lingkungan alam dan zaman, menimbulkan kebudayaan bersama yang mempunyai corak khusus tapi tetap berdasar atas adab kemanusiaan sedunia. Selanjutnya terciptalah alamdiri, alam-kebangsaan, alam-kemanusiaan yang saling berhubungan, karena memiliki dasar yang sama.

4.     Kebudayaan sebagai buah budi dan hasil perjuangan manusia terhadap kekuasaan alam dan zaman, membuktikan kemampuan manusia untuk mengatasi segala rintangan dalam hidup guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam hidup bersama, yang bersifat tertib dan damai.

5.     Kemerdekaan, merupakan syarat mutlak dalam setiap usaha pendidikan yang berdasarkan keyakinan, bahwa manusia, karena kodratnya sendiri dan hanya terbatas oleh pengaruh-pengaruh kodrat alam serta zaman dan masyarakatnya, dapat memelihara dan memajukan, mempertinggi dan menyempurnakan hidupnya sendiri. Setiap pelaksanaan hanya akan mempersulit dan menghambat kemajuan hidup anak-anak.

6.     Usaha kebudayaan, maka setiap pendidikan wajib memelihara dan meneruskan corak warna dan garis kebidupan yang terdapat dalam setiap aliran kebatinan dan kemasyarakatan untuk mencapai keluhuran dan kehalusan hidup dan penghidupan menurut masing-masing aliran yang menuju ke arah adab kemanusiaan. 

7.     Pendidikan dan pengajaran rakyat sebagai usaha untuk mempertinggi dan menyempurnakan hidup dan penghidupan rakyat, adalah menjadi kewajiban negara dan harus dilakukan sebaik-baiknya oleh pemerintah dengan memperhatikan kekhususan dan keistimewaan yang berhubungan dengan kebatian, serta memberi kesempatan pada setiap warga negara untuk menuntut kecerdasan budi, pengetahuan dan kepandaian yang setinggi-tingginya, sesuai dengan kemampuannya

Jika dicermati asas-asas pendidikan yang dirumuskan oleh Ki Hadjar Dewantara sangat menekankan pada pemikiran yang holistik dan komprehensif dalam membangun fondasi pendidikan. Pendidikan tidak terbatas pada proses belajar, akan tetapi pendidikan harus mampu menggerakan semua dimensi nilai kemanusiaan agar manusia memiliki bekal untuk hidup sejahtera, bahagia dan bermakna bagi kehidupan. Pendidikan adalah proses untuk membentuk dan mengembangkan kecerdasan manusia yang memiliki nilai-nilai karakter yang mampu untuk mempertahankan eksistensi dirinya dalam proses perubahan sosial-budaya

 

C. Kaitan Tujuan Pendidikan dengan Ajaran Ki Hadjar Dewantara

 

Jika dicermati, kita dapat melihat hubungan antara tujuan Pendidikan dan maksud dari ketujuh asas yang dikemukakan Ki Hadjar Dewantara. Tujuan Pendidikan merupakan suatu proses yang dialami untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan hidup untuk mempersiapkan seseorang agar berfungsi sebagaimana mestinya. Kemudian ada juga maksud dari ketujuh asas Ki Hadjar Dewantara, yakni bahwa Pendidikan tidak terbatas pada proses belajar, akan tetapi pendidikan harus mampu menggerakan semua dimensi nilai kemanusiaan agar manusia memiliki bekal untuk hidup sejahtera, bahagia dan bermakna bagi kehidupan. Dapat kita simpulkan bahwa maksud dari 7 asas Ki Hadjar Dewantara dapat dikatakan sama dengan tujuan Pendidikan pada umumnya. Maka, untuk memajukan mutu Pendidikan di Indonesia, ajaran dari Ki Hadjar Dewantara ada baiknya digunakan sebagai fondasi pembentukan, sehingga Pendidikan di Indonesia lebih berfokus kepada pemikiran yang holistic dan komprehensif, karena sudah selaras dengan tujuan Pendidikan pada umumnya.

 

 

Referensi :

https://www.akseleran.co.id/blog/pendidikan-adalah/#Tujuan_dari_Pendidikan

Handout - Konsep Literasi dan Tujuan Pendidikan

https://ruangguruku.com/tujuan-pendidikan-nasional/

Kumalasari, Dyah. 2010. KONSEP PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA DALAM PENDIDIKAN TAMAN SISWA (Tinjauan Humanis-Religius). ISTORIA Volume VIII Nomor 1.


Comments

Popular posts from this blog

  SOSIALISASI DALAM KELUARGA Pak Haji tinggal Bersama istrinya dan seorang anak tunggal yang bernama Uneng. Pak Haji selalu mengajarkan Uneng agar taat beribadah dan juga menjada sopan santunnya saat berbicara dengan orang yang lebih tua. Pak Haji melakukan hal tersebut agar saat Uneng dewasa nanti, ia sudah siap dan mengerti cara bersikap yang benar dalam berkehidupan bermasyarakat. Pak Haji juga selalu mengingatkan Uneng agar rajin belajar untuk menambah ilmu dan wawasan yang kelak nanti dapat ia gunakan. Dari penggalan sinopsis diatas apabila kita dalami tentang sosialisasi dalam keluarga maka terdapat nilai-nilai yang baik dan tepat diterapkan. Namun sebelum itu kita harus membahas telebih dahulu tentang sosialisasi dalam keluarga. Menurut James W. Vander Zanden, seperti dijelaskan oleh Profesor Damsar dalam buku Pengantar Sosiologi Pendidikan (2011), sosialisasi adalah tahap interaksi sosial yang membuat seseorang bisa memperoleh pengetahuan, sikap, nilai, dan acuan perilaku a...
  SISTEM BUDAYA DAN WUJUD BUDAYA YANG ADA A.        Pengertian Sistem Budaya Sistem budaya merupakan wujud yang abstrak dari kebudayaan. Sistem budaya atau cultural system merupakan ide-ide dan gagasan manusia yang hidup bersama dalam suatu masyarakat. Gagasan tersebut tidak dalam keadaan lepas satu dari yang lainnya, tetapi selalu berkaitan dan menjadi suatu sistem. Dengan demikian sistem budaya adalah bagian dari kebudayaan, yang diartikan pula adat-istiadat. Adatistiadat mencakup sistem nilai budaya, sistem norma, norma norma menurut pranata-pranata yang ada di dalam masyarakat yang bersangkutan, termasuk norma agama   B.        Wujud Sistem Budaya a.        Gagasan (Wujud Ideal) Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide, gagasan, nilai, norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dal...