SOSIALISASI DALAM KELUARGA
Pak Haji tinggal Bersama istrinya dan seorang anak tunggal yang bernama Uneng. Pak Haji selalu mengajarkan Uneng agar taat beribadah dan juga menjada sopan santunnya saat berbicara dengan orang yang lebih tua. Pak Haji melakukan hal tersebut agar saat Uneng dewasa nanti, ia sudah siap dan mengerti cara bersikap yang benar dalam berkehidupan bermasyarakat. Pak Haji juga selalu mengingatkan Uneng agar rajin belajar untuk menambah ilmu dan wawasan yang kelak nanti dapat ia gunakan.
Dari penggalan sinopsis diatas apabila kita dalami tentang sosialisasi dalam keluarga maka terdapat nilai-nilai yang baik dan tepat diterapkan. Namun sebelum itu kita harus membahas telebih dahulu tentang sosialisasi dalam keluarga.
Menurut James W. Vander Zanden, seperti dijelaskan oleh Profesor Damsar dalam buku Pengantar Sosiologi Pendidikan (2011), sosialisasi adalah tahap interaksi sosial yang membuat seseorang bisa memperoleh pengetahuan, sikap, nilai, dan acuan perilaku agar bisa ikut serta sebagai bagian dari masyarakat. Sementara dalam Glosari Teori Sosial (2011) karya M. T. Rahman, diterangkan bahwa tujuan dari proses sosialisasi ialah agar seorang individu bisa mempelajari peran dan statusnya melalui sebuah budaya atau norma yang berlaku di kelompok masyarakat. Adapun norma atau budaya itu dapat dipahami sebagai cara bersikap seseorang di tengah interaksi dalam masyarakat.
Proses sosialisasi mayoritas individu dimulai dari lingkup keluarga. Di lingkungan keluarga, setiap anak mulai melakukan proses sosialisasi dengan berhubungan dengan ayah, ibu, dan saudaranya. Melalui proses sosialisasi itu, anak akan mendapatkan sesuatu yang sebelumnya belum dikenalnya sebagai bekal kehidupan. Sosialisasi dalam keluarga ini berperan dalam pembentukan kepribadian si anak.
Namun, bentuk kepribadian yang sudah tertanam dari lingkup keluarga itu, masih dapat berubah ketika seorang anak mulai dewasa dan berinteraksi dengan lingungan masyarakat di sekitarnya. Maka itu, Sunarto dalam Pengantar Sosiologi (2004) menjelaskan, terdapat dua jenis sosialisasi, yakni primer (keluarga) dan sekunder (masyarakat). Sebelum seorang anak menggeluti dunia di luar rumahnya, ia mendapatkan pondasi kepribadian di lingkungan terdekatnya, yakni keluarga. Berkat informasi fundamental dari lingkungan keluarga itu, seorang individu akan lebih siap menghadapi tantangan dunia yang sebenarnya, yakni sebagai aktor dalam masyarakat. Kepribadian seorang individu beserta berbagai pengetahuan yang telah dimilikinya akan menjadi sesuatu yang penting untuk bisa bertahan menghadapi dunia luar. Mereka yang tidak diajarkan bagaimana kondisi kehidupan yang sebenarnya, akan terkejut jika melihat sesuatu yang tidak pernah ditemuinya. Maka, sosialisasi dalam lingkup keluarga memiliki fungsi yang menentukan.
Dari pembahasan diatas dapat kita analisa bahwa perilaku Pak Somad dalam membimbing dan mengajarkan anaknya patut dicontoh oleh orang tua lain. Karena keluara merupakan gerbang awal pendidikan dan pengajaran bagi anak. Melalui peranan keluarga lah seorang anak mampu mempersiapkan diri sebelum ia terjun secara langsung kedalam masyarakat. Pendidikan moral dan etika sejak dini akan membuat anak semakin melekan dengan kebudayaan dan nilai moral yang berkembang sehingga mereka mampu berkembang dan bertumbuh di dalam lingkungan masyarakat dengan lebih baik.
Sumber :
https://tirto.id/fungsi-sosialisasi-dalam-keluarga-untuk-pembentukan-kepribadian-galB
Bastian, Rina., Syur'aini & Ismaniar. 2020. Pengaruh Sosialisasi dalam Keluarga Terhadap Perkembangan Sosial Anak Usia Dini di Masyarakat Desa Koto Lamo Sumatra Barat. Indonesian Journal Of Adult and Community Education. 2 - 1.

Comments
Post a Comment